-->

DARI SISA MBG KE PANGGUNG DUNIA: SISWA MAN 1 MEDAN CIPTAKAN BATA & GENTENG DARI KULIT BUAH, RAIH MEDALI EMAS DI JEPANG

Editor: Redaksi author photo

 





Medan - Jurnalisku.com

9 Juli 2026 Siapa sangka sampah bisa mengantarkan ke podium dunia.

Fauzul, 16 tahun, siswa MAN 1 Medan, baru saja turun dari pesawat dengan medali emas melingkar di leher. Ia dan 6 rekannya baru pulang dari Osaka, Jepang, setelah menjuarai ajang Japan Design Idea and Invention Expo.

Lawan mereka? Ratusan tim ilmuwan muda dari Thailand, China, Arab Saudi, Myanmar, Filipina, Inggris, dan negara lainnya.  

Senjata mereka? Bata dan genteng yang terbuat dari limbah Makan Bergizi Gratis (MBG).

"Awalnya Cuma Lihat Sampah Menumpuk"

Sorot mata Fauzul masih berbinar saat menceritakan awal mula ide itu. 

"Inspirasi kami sebenarnya datang ketika melihat program MBG di sekolah. Banyak teman-teman saya itu membuang sampah atau kulit buah sampai menumpuk," kata Fauzul kepada jurnalis Kamis (9/7/2026).

Dari obrolan kecil di ekstrakurikuler Karya Ilmiah Remaja (KIR), muncul pertanyaan besar: bagaimana kalau limbah ini tidak dibuang, tapi dimanfaatkan?

Mereka pun bergerak. Mengetuk pintu kelas satu-satu sambil membawa kantong plastik besar. Kulit pisang, jeruk, buah naga, semua dikumpulkan. "Kulit buahnya campur-campur. Karena kulitnya kan mengandung serat. Jadi serat-serat itu bisa dibentuk dan jadi bahan yang kuat," jelas Fauzul.

*2 Bulan Uji Coba, Gagal Berkali-kali*  

Perjalanan tidak mudah. Limbah dikeringkan berhari-hari, lalu digiling jadi bubuk dengan blender. Selama 2 bulan mereka uji coba komposisi.

"Kegagalan demi kegagalan kerap membersamai karena kalkulasi komposisi material belum sempurna," kenang Fauzul.

Awalnya mereka pakai perbandingan 2:1, dua bagian bubuk kulit buah dan satu bagian tanah liat. Hasilnya? Hancur saat dibakar. 

Hingga akhirnya mereka menemukan pakem yang pas. Bubuk limbah MBG dicampur tanah liat, dicetak, lalu dibakar selama 4 hari di tungku.

Hasilnya mengejutkan. Secara manual, bata dan genteng itu diuji tahan beban sampai 80 kilogram.

*Mengalahkan Ratusan Tim Dunia di Osaka*

Berbekal inovasi itu, mereka terbang ke Jepang. Membawa bata dan genteng yang sudah diwarnai.

"Sempat tidak optimis melihat inovasi peserta lainnya dari penjuru dunia yang keren. Eh, ternyata kami menang dan dapat gold medal di bidang applied science," kata Fauzul sambil tertawa.

Pelatih KIR MAN 1 Medan, Doni Anggara, mengaku bangga. "Kalau total ada ratusan tim dari seluruh dunia yang ikut. Kita dapat achievement-nya gold medal," ungkapnya.

*Dari Masalah Sekolah Jadi Solusi Nasional*

Kepala MAN 1 Medan, Reza Faisal, menyebut inovasi ini lahir dari program KIR yang sudah sering mengharumkan nama sekolah. Sebelumnya mereka juga pernah juara di Korea Selatan, Kuala Lumpur, dan Bali dengan serum dari buah naga.

"Yang terpenting dari pencapaian ini adalah bagaimana siswa mengamati suatu hal, bersikap kritis terhadap situasi, hingga kemudian memberikan solusi bagi masyarakat," kata Reza.

Ia menyebut, sudah setahun program MBG berjalan dan sekolah punya keterbatasan mengolah limbahnya. Inovasi ini bisa jadi jawaban. 

"Kita sudah memfasilitasi biaya pendaftaran, bimbingan, bahan-bahan, bahkan menggerakkan kelas-kelas mengumpulkan limbah MBG," ujarnya.

Hebatnya, inovasi ini sudah mengantongi sertifikat HAKI. Dan MAN 1 Medan terbuka jika ada pihak yang ingin mengembangkan lebih lanjut.(Red).

Share:
Komentar

Berita Terkini