-->

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H
Selamat Idul Fitri 1447 H. Semoga cahaya Idul Fitri membawa kedamaian di hati, kebahagiaan dalam keluarga, dan keberkahan dalam kehidupan."

GEMA KALAM ILAHI DI JANTUNG KOTA: MEDAN SELAYANG UKIR SEJARAH JUARA UMUM MTQ KE-59 KOTA MEDAN 2026, 692 KAFILAH BERTARUNG, 75 BEASISWA DITEBAR, UMKM RAIH OMZET RP590,7 JUTA

Editor: Redaksi author photo

 






Medan - Jurnalisku.com

Langit Jalan Gatot Subroto berpendar takbir dan haru pada Sabtu malam (18/4/2026) ketika Kecamatan Medan Selayang resmi dikukuhkan sebagai juara umum Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) ke-59 Kota Medan 2026. Penobatan bersejarah itu mengakhiri sepekan penuh syiar yang mempertemukan 692 kafilah terbaik dari 21 kecamatan, mulai dari qari-qariah cilik hingga hafiz-hafizah 30 juz, mufassir, regu fahmil, syarhil, kaligrafer, hingga penulis karya ilmiah Al-Qur’an. Di podium kehormatan, Medan Sunggal berdiri tegap sebagai runner-up dengan selisih angka yang tipis, disusul Medan Barat di peringkat ketiga setelah pertarungan sengit di cabang-cabang penentu.


Momen penutupan berlangsung khidmat sekaligus semarak. M. Sofyan, mewakili Wali Kota Medan, menabuh bedug sebagai penanda resmi berakhirnya rangkaian MTQ, diiringi kumandang doa dan tepuk tangan ribuan warga yang memadati arena utama. Tahun ini, dewan hakim secara khusus mengapresiasi lonjakan kualitas peserta: tajwid semakin presisi, fashahah makin tertata, lagu dan adab membaca Al-Qur’an kian matang, serta pemahaman tafsir dan penguasaan dalil dalam fahmil-syarhil menunjukkan pembinaan yang menyentuh substansi. “MTQ Medan 2026 bukan sekadar lomba suara merdu, melainkan barometer keberhasilan ekosistem pembinaan Qur’an di tingkat akar rumput—masjid, musala, rumah tahfiz, TPQ/TPA, madrasah, dan sekolah umum,” ujar salah seorang dewan hakim.


Kemenangan Medan Selayang adalah buah dari kedalaman skuad dan konsistensi lintas cabang. Mereka memanen poin dari tilawah remaja dan dewasa, mengamankan emas di tahfiz 10 dan 20 juz, serta mencuri angka penting di fahmil beregu dan khat dekorasi. Medan Sunggal memberi perlawanan sengit dengan dominasi di tahfiz 5 juz dan syarhil, sementara Medan Barat menutup jarak lewat tafsir Bahasa Indonesia dan karya tulis ilmiah Al-Qur’an. Selisih akhir yang tipis menegaskan satu hal: peta kekuatan MTQ Kota Medan kini sangat kompetitif, memaksa setiap kecamatan memperkuat manajerial kafilah, regenerasi pelatih, dan intensitas latihan.


Di luar arena musabaqah, denyut ekonomi umat terasa nyata. Kawasan sekitar lokasi MTQ disulap menjadi ekosistem UMKM syariah: bazar kuliner halal, fesyen muslim, herbal dan madu lokal, buku-buku keislaman, produk kriya kaligrafi, hingga layanan foto keluarga Islami. Transaksi yang tercatat panitia menembus Rp590.700.000 selama penyelenggaraan—angka yang menghidupi ratusan pelaku usaha mikro dan menjadi ruang promosi paling efektif bagi produk halal Kota Medan. Pemko menegaskan model “syiar beriring pasar” ini akan direplikasi pada event keumatan berikutnya dengan kurasi produk, digitalisasi pembayaran, dan pendampingan sertifikasi halal.


Apresiasi bagi para jawara tahun ini naik kelas. Tak hanya trofi dan uang pembinaan, panitia bersama tiga perguruan tinggi mitra mengalokasikan 75 kuota beasiswa berjenjang—D3, S1, hingga program akselerasi tahfiz—untuk qari-qariah, hafiz-hafizah, mufassir, serta peraih terbaik fahmil, syarhil, dan kaligrafi. Beasiswa ini dirancang sebagai investasi kaderisasi jangka panjang: mencetak guru ngaji bersertifikat, imam rawatib yang mumpuni, dai-daiyah muda yang komunikatif, dan penggerak literasi Qur’an di lingkungan. “Kita ingin lahir generasi yang fasih membaca, paham makna, dan kokoh mengamalkan,” tegas M. Sofyan dalam pidato penutupan.


Tongkat estafet syiar telah ditetapkan. MTQ ke-60 Kota Medan tahun 2027 akan digelar di Kecamatan Medan Petisah dengan target partisipasi lebih luas, inovasi cabang lomba yang adaptif terhadap era digital, serta integrasi program UMKM berbasis platform nontunai dan kurasi mutu. Bagi Kota Medan, MTQ telah melampaui makna kompetisi tahunan. Ia adalah ruang pembinaan karakter, penguat ukhuwah, penggerak ekonomi umat, sekaligus laboratorium kepemimpinan berbasis nilai. Dan malam itu, di bawah cahaya lampu Gatot Subroto yang hangat, Medan Selayang menitipkan pesan: gelar juara umum bukan garis akhir, melainkan amanah untuk memastikan Kalam Ilahi tetap hidup, mengakar, dan menuntun di setiap lorong kota.

Share:
Komentar

Berita Terkini