MEDAN – JURNALISKU.COM
Di tengah upaya pemulihan ekonomi kerakyatan, sebuah ganjalan baru muncul dari hal yang sering dianggap remeh selembar kantong plastik. Pelaku UMKM dan pedagang di Kota Medan kini dihantui keresahan mendalam akibat kenaikan harga plastik yang terjadi secara drastis dalam waktu singkat.
Jika tidak segera dicarikan jalan keluar, lonjakan biaya operasional ini diprediksi akan memicu efek domino terhadap kenaikan harga jual produk di tingkat konsumen.
Ketua DPC Macan Asia Indonesia (MAI) Kota Medan, Suwarno, S.E., M.M., mengungkapkan bahwa kenaikan harga ini telah mencapai taraf yang tidak wajar. Berdasarkan pantauan di lapangan hingga Jumat (3/4/2026), harga kantong plastik yang semula berada di kisaran Rp28.000, kini melonjak tajam hingga menyentuh angka Rp50.000.
Kenaikan hampir seratus persen ini menempatkan pedagang pada posisi simalakama. Suwarno, yang juga dikenal sebagai tokoh yang konsisten menyuarakan hak pedagang, menyoroti beban moral dan finansial yang kini dipikul para pelaku usaha kecil. Hal ini sesuai dengan arahan Ketua DPD MAI Sumut M. Khalil Prasetyo, yang menekankan bahwa MAI harus hadir sebagai garda terdepan dalam mengadvokasi kepentingan rakyat kecil, terutama saat stabilitas ekonomi lokal mulai goyah.
"Kenaikan ini adalah hantaman keras bagi pedagang. Mereka berada di persimpangan sulit antara menaikkan harga jual akan berisiko ditinggalkan pelanggan, tapi jika bertahan di harga lama, pedagang dipastikan akan tekor (merugi). Plastik adalah komponen vital dalam distribusi barang, kenaikannya adalah beban yang tidak bisa dianggap sepele," ujar Suwarno didampingi Sekretaris Zullifkar AB dan Bendahara Said Ilham Assegaf.
Melihat eskalasi masalah yang mulai merembet ke stabilitas harga barang, MAI Medan mendesak Dinas Koperasi UMKM Perindag Kota Medan untuk segera turun tangan. Suwarno menekankan perlunya langkah antisipatif, baik melalui operasi pasar, pemantauan rantai pasok, maupun pemberian subsidi atau solusi alternatif bagi pelaku UMKM.
Langkah cepat dari pemerintah sangat dinanti guna menjaga agar kepercayaan publik dan stabilitas daya beli masyarakat tetap terjaga.
"Kita tidak ingin masalah plastik ini menjadi pemicu inflasi baru yang memberatkan warga Medan. Pemerintah harus hadir sebelum dampak ini meluas ke segala sektor," pungkasnya.
Kondisi ini bukan sekadar soal angka, melainkan ancaman nyata bagi keberlangsungan usaha mikro yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi kota. (DM)
