Medan — Jurnalisku.com
Akhir pekan di Lapangan Sirkuit Pancing, Sumatera Utara, berubah jadi lautan warna. Ratusan layang-layang aneka bentuk dan ukuran menari di langit biru dalam gelaran Festival Layang-Layang Piala Gubernur Sumatera Utara. Ajang tahunan ini sukses menyedot ribuan pasang mata, dari anak-anak hingga orang tua yang larut dalam euforia permainan tradisional.
Sejak pagi, arena sirkuit dipadati peserta dari berbagai penjuru Kota Medan. Tak hanya komunitas pecinta layang-layang kawakan, festival ini juga diramaikan pelajar dan mahasiswa yang unjuk kreativitas di udara terbuka. Tali senar berseliweran, sorak penonton bersahutan setiap kali layang-layang raksasa berhasil mengangkasa stabil.
Di antara ratusan peserta, Alfredo dan Agung, mahasiswa Sekolah Tinggi Olahraga dan Kesehatan Binaguna, jadi salah satu yang mencuri perhatian. Keduanya mengaku bangga bisa ikut melestarikan budaya lewat layang-layang. “Kampus sangat mendukung. Beberapa dosen kami bahkan jadi panitia kegiatan ini,” ungkap Alfredo sambil menarik ulur benang layang-layangnya.
Alfredo menjelaskan, dewan juri tidak menilai dari keindahan semata. “Yang dinilai bukan hanya bagus dilihat, tetapi juga bagaimana layang-layang bisa tetap stabil di udara. Motif harus detail, ukuran proporsional, dan yang paling penting tahan banting melawan angin,” ujarnya.
Agung menambahkan, teknik menerbangkan jadi penentu juara. “Layang-layang yang naik dengan tenang, tidak liar ke kiri-kanan, itu yang punya nilai tinggi. Percuma motif keren kalau baru lima menit sudah oleng dan jatuh,” katanya sambil tertawa.
Bagi masyarakat yang tak sempat membuat sendiri, panitia menyiapkan stan penjualan layang-layang di area festival. Harga ramah kantong, mulai Rp20 ribu per unit untuk ukuran kecil hingga ratusan ribu untuk layang-layang hias berukuran jumbo. Pengunjung juga bebas membawa layang-layang dari rumah untuk ikut meramaikan langit Sirkuit Pancing.
Festival Layang-Layang Piala Gubernur Sumut bukan sekadar lomba. Ajang ini menjadi ruang pelestarian permainan tradisional di tengah gempuran gawai. Anak-anak belajar sabar menarik ulur benang, orang tua nostalgia masa kecil, dan UMKM lokal kebanjiran pembeli.
Hingga sore hari, langit Sirkuit Pancing masih penuh warna. Tawa, tepuk tangan, dan riuh sorak penonton berpadu dengan deru angin. Festival ini membuktikan: permainan sederhana bisa menyatukan ribuan orang dan menghidupkan kembali tradisi yang nyaris terlupakan. Pemerintah Provinsi Sumatera Utara berharap event ini terus digelar tiap tahun sebagai hiburan positif sekaligus magnet wisata budaya.(Red)

