Medan — Jurnalisku.com
Rabu pagi, 29 April 2026, Aula Madinatul Hujjaj Asrama Haji Medan dipenuhi 358 wajah yang berbinar sekaligus tegang. Tepat pukul 09.50 WIB, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Haji dan Umrah Provinsi Sumatera Utara, H. Zulkifli Sitorus, naik ke mimbar menyambut Kloter 8 Embarkasi Medan. Di hadapan jemaah asal Serdang Bedagai dan Kota Medan, ia tak berbasa-basi. Tiga amanah langsung dititipkan: jaga disiplin, rawat kekompakan, dan fokus meraih haji mabrur.
“Kesempatan ini harus dimanfaatkan dengan sungguh-sungguh. Setelah pulang dari Tanah Suci, untuk bisa berangkat lagi secara reguler membutuhkan waktu yang panjang. Karena itu, fokuslah beribadah dan jadikan haji tahun ini sebagai yang terbaik,” tegas Zulkifli. Suaranya menggema, disambut anggukan 358 kepala yang siap menunaikan rukun Islam kelima.
Kloter 8 terdiri dari 190 jemaah asal Kabupaten Serdang Bedagai, 162 jemaah asal Kota Medan, ditambah enam petugas kloter dan tim pendukung. Rentang usia mereka jadi cermin panggilan Allah tak pilih umur. Jemaah termuda, Raka Setiawan, 21 tahun, asal Serdang Bedagai, duduk tak jauh dari jemaah tertua, Sapinah Kasilen Sartamin, 83 tahun, dari daerah yang sama. Yang muda menggandeng yang sepuh, yang sepuh mendoakan yang muda.
Zulkifli mengingatkan, haji adalah ibadah kolektif. “Kita berangkat sebagai satu rombongan. Disiplin waktu dan kepatuhan terhadap aturan menjadi kunci agar seluruh proses berjalan tertib, aman, dan lancar,” ujarnya. Ia meminta jemaah menanggalkan ego, menahan emosi, dan mendahulukan kepentingan bersama, mulai dari antrean makan, pembagian bus, hingga puncak haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina.
Hal teknis tak luput dari perhatian. Kakanwil menekankan pentingnya menjaga dokumen. “Dokumen tersebut sangat penting selama di Tanah Suci, jangan sampai hilang atau tercecer,” katanya, merujuk kartu Nusuk, paspor, gelang identitas, serta living cost 750 riyal yang sudah di tangan jemaah. Tanpa Nusuk, pintu Masjidil Haram bisa tertutup. Tanpa paspor, pulang bisa tertunda.
Formasi petugas Kloter 8 juga diperkenalkan: Sugiyanto Nasir Abdullah sebagai TPHI sekaligus pimpinan kloter, Kuswan Kasiman Syahid sebagai TPIHI, dr. Hannana Syaiful sebagai dokter kloter, Dyna Elvina Saragih sebagai paramedis, serta PHD Henny Mardiana Lubis dan Junaidi Sirait. “Mereka kepanjangan tangan kami. Ikuti arahan mereka demi keselamatan dan kelancaran ibadah,” pesan Zulkifli.
Penerimaan jemaah berlangsung tertib dan penuh haru. Hadir unsur DPRD Sumut, jajaran PPIH Embarkasi Medan, Kemenkes, Balai Karantina Kesehatan Medan, Garuda Indonesia, Imigrasi, perbankan, dan insan pers. Satu per satu nama dipanggil, dokumen dicek, doa dipanjatkan.
Sesuai jadwal, Kloter 8 akan terbang ke Tanah Suci melalui Bandara Internasional Kualanamu pada Kamis, 30 April 2026. Dari Medan menuju Madinah, dari Raudhah menuju padang Arafah, 358 jiwa membawa satu tekad: pulang dengan predikat mabrur. Pesan Kakanwil pagi itu jelas, haji bukan lomba cepat sampai, tapi ujian siapa paling taat, paling sabar, dan paling tulus menyerahkan diri kepada Allah.
