Medan - Jurnalisku.com
Rabu sore 17 Juni 2026. Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam DPC GMNI Kota Medan menggelar aksi unjuk rasa dengan membentangkan spanduk bertuliskan “Gulingkan rezim Prabowo - Gibran. Kembalikan supremasi sipil”.
Massa bergerak jalan kaki sekitar pukul 17.00 WIB. Awalnya mereka berorasi di depan gerbang DPRD Kota Medan. Usai dari sana, barisan bergeser ke Makodim 0201 Medan di Jalan Pengadilan. Setelah hampir satu jam berorasi,
Ketua DPC GMNI Kota Medan Damses Sianturi menyebut spanduk gulingkan rezim sebagai puncak kekesalan mahasiswa. “Ini bentuk keresahan. Kami melihat ketidakmampuan rezim Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming dalam memimpin bangsa. Tidak ada satu pun kebijakan yang berpihak kepada rakyat,” kata Damses di lokasi. Ia menyoroti penguatan nilai tukar dolar, kenaikan harga BBM non subsidi, hingga kebijakan luar negeri yang dinilai merugikan Indonesia.
Alasan GMNI memilih Kodim sebagai titik aksi juga ditegaskan Damses. Mereka menolak keterlibatan TNI di jabatan sipil. Tiga program disorot: TNI dilibatkan dalam program makan bergizi gratis, pendidikan sekolah rakyat, dan koperasi desa merah putih. “Biarlah militer kembali ke barak. Biarlah militer kembali ke fungsinya. Agar militer tidak lagi masuk ke ranah pemerintahan,” ujarnya.
Tuntutan lain yang dibawa massa adalah penundaan pembangunan batalyon baru di kabupaten kota dan penambahan pasukan. GMNI menilai langkah itu tidak memiliki urgensi strategis dan memboroskan anggaran. “Kondisi fiskal negara harus jadi pertimbangan. Untuk saat ini tidak ada urgensi strategisnya,” kata Damses.
Menanggapi aksi tersebut, Dandim 0201 Medan Letkol Delli Yudha menyatakan pihaknya menghormati penyampaian aspirasi sepanjang sesuai aturan. Ia menegaskan kawasan markas militer tidak boleh dijadikan tempat orasi. “Makanya tadi kami coba ajak berdiskusi masuk ke dalam. Kalau tetap orasi di depan, itu melanggar undang-undang dan mengganggu hak masyarakat yang melintas,” jelas Delli.
Delli menyebut Kodim telah menerima dokumen berisi 11+3 tuntutan dari mahasiswa. Ia berjanji menjadwalkan forum diskusi lanjutan agar semua poin bisa dibahas dengan data. “Tentunya butuh waktu lama. Nanti akan saya jadwalkan FGD. Saya ingin kita sama-sama pegang data supaya diskusinya lebih bagus,” ujarnya.
