Medan—Jurnalisku.com
Lampu mati, warga menjerit. Ketua Umum PB Pendawa Indonesia, H. Ruslan, SH, akhirnya bicara lantang. Ia minta PLN Sumatera Utara diaudit habis-habisan karena pemadaman listrik makin sering dan tanpa ampun.
Jumat, 5 Juni 2026, di Kantor Sekretariat Pendawa Kota Medan, kawasan Sunggal, Ruslan buka suara di depan wartawan. “Ini sudah keterlaluan. Listrik mati tiap hari. Rakyat dirugikan, tapi PLN santai saja. Harus ada yang periksa. Harus ada yang bertanggung jawab,” tegasnya.
Ketua Umum PB Pendawa Ruslan SH tidak main-main. Ia dorong Kejaksaan dan Kepolisian turun tangan. “Kalau perlu, geledah PLN. Selidiki. Ada apa sampai listrik Sumut byar-pet terus? Jangan-jangan ada yang tidak beres di manajemen,” katanya dengan nada tinggi.
Ruslan nilai PLN pilih kasih. “Warga telat sehari bayar, langsung diputus. Token habis jam 12 malam, harus isi detik itu juga. Tapi giliran PLN mati lampu berjam-jam, tidak ada ganti rugi. Di mana adilnya?” sindir Ruslan.
Dampaknya nyata di lapangan. Warung kecil merugi karena kulkas mati. Peternak ayam kehilangan ribuan ekor karena kipas kandang berhenti. UMKM tidak bisa produksi. Sekolah kalang kabut saat ujian. “Anak-anak lagi ujian, listrik padam. Mau jadi apa generasi kita kalau belajar saja diganggu mati lampu,” ujar Ruslan geram.
Bagi Ruslan, ini bukan sekadar soal teknis. Ini soal hati nurani. “PLN pegang hidup orang banyak. Jangan main-main. Kalau tidak sanggup kasih terang, lebih baik angkat kaki,” tegasnya.
Ia tutup dengan ultimatum: “Kami di Pendawa akan kawal terus. PLN harus berhenti menyiksa rakyat. Sumut butuh listrik nyala, bukan janji manis.
