Medan — Jurnalisku.com
Idul Adha 1447 H tak sekadar jadi tanggal merah di kalender MAN 1 Medan. Kamis, 29 Mei 2026, halaman madrasah di Jalan Willem Iskandar itu berubah jadi ruang kelas paling jujur. Gurunya bukan buku, tapi 7 ekor sapi qurban yang tumbang satu per satu di hadapan siswa, guru, dan warga.
Qurban tahun ini bukan main-main. Hasil patungan 49 guru, orang tua siswa, dan pegawai, 7 ekor sapi disembelih sebagai pelajaran langsung tentang ikhlas. Begitu prosesi selesai, ratusan kantong daging langsung bergerak ke rumah-rumah warga sekitar madrasah. Tak ada yang disimpan, tak ada yang ditahan. Semua mengalir.
Kepala MAN 1 Medan, Reza Faisal, berdiri di tengah hiruk-pikuk penyembelihan. Kalimatnya menohok. “Kita boleh jadi apapun di dunia ini. Boleh pintar, boleh kaya, boleh punya jabatan. Tapi kalau sifat berkurban mati dalam diri kita, kita nggak ada apa-apanya,” tegas Reza Faisal.
Ia mengingatkan kisah Nabi Ibrahim AS yang jadi fondasi Idul Adha. “Ini bukan soal daging. Ini soal ujian. Bapak para nabi saja diuji untuk menyembelih anak yang paling dicintai, Ismail AS. Karena Allah yang perintah. Lulus nggak ujiannya? Lulus. Karena taat. Nah, kita disuruh korban harta, korban ego, masih banyak mikir,” ujarnya.
Reza Faisal menekankan, berkurban itu sekolah karakter. “Kalau hikmah qurban ini masuk ke hati, InsyaAllah lahir manusia yang ikhlas, amanah, sabar, dan peduli. Nggak gampang marah, nggak gampang korupsi, nggak gampang acuh sama orang susah. Itu target pendidikan kita di MAN 1 Medan,” jelasnya.
*Bukan Kali Ini Saja, MAN 1 Medan Sudah Duluan Mengabdi*
Ternyata tradisi ini bukan baru. Sejak 10 Dzulhijjah 1447 H, MAN 1 Medan sudah lebih dulu turun ke Desa Pama Semelir, Langkat. Desa di perbatasan itu selama ini belum pernah menggelar Salat Ied dan penyembelihan qurban. Tim dari MAN 1 Medan datang, bawa imam, bawa hewan qurban, ajak warga salat dan merayakan Idul Adha bersama.
“Pengabdian masyarakat itu napasnya madrasah. Ilmu nggak boleh berhenti di kelas. Harus sampai ke desa, ke orang yang belum tersentuh,” kata Reza Faisal.
*Qurban Sebagai Laboratorium Fiqh*
Saat ditanya kenapa siswa harus dilibatkan langsung, jawaban Reza Faisal lugas. “Ini implementasi Fiqh. Di kelas mereka belajar bab qurban. Di lapangan mereka lihat langsung. Gimana niatnya, gimana prosesnya, gimana hukumnya. Biar mereka paham, berkurban itu perintah Allah yang serius.”
Ia ingin siswa MAN 1 Medan meneladani totalitas Nabi Ibrahim. “Allah nggak minta kita sembelih anak. Allah cuma minta kita sembelih sifat pelit, sembelih rasa paling hebat, sembelih ego. Kalau Nabi Ibrahim saja taat pada perintah yang ekstrem, masa kita yang cuma diminta berbagi masih ragu,” tutupnya.(DM)
