Medan— Jurnalisku.com
Kamis, 28 Mei 2026, halaman Kantor DPW PAN Sumatera Utara di Jalan Sei Lepan No. 2 mendadak hidup. Bukan karena spanduk atau bendera partai. Idul Adha 1447 H, 10 ekor lembu qurban berdiri gagah, siap jadi bukti bahwa PAN Sumut tak hanya pandai bersuara, tapi juga pandai bekerja.
Sejak fajar menyingsing, kader PAN sudah merapatkan barisan. Tak ada seragam rapi, tak ada protokoler kaku. Yang ada hanya keringat, takbir, dan semangat gotong royong. Ketua ikut mengangkat, sekretaris ikut menimbang, kader muda ikut membungkus. Di halaman itu, semua pangkat luntur. Yang tersisa hanya niat: melayani.
H. Syah Afandin, S.H., Ketua DPW PAN Sumut, turun langsung tanpa sekat. “Alhamdulillah 10 ekor. Ini bukan pamer jumlah. Ini latihan hati. Lembu saja rela disembelih untuk orang banyak. Masak kita sebagai pengurus partai masih hitung-hitungan kalau soal membantu rakyat,” ucap Syah Afandin sambil mengawasi tim pemotong.
Baginya, Idul Adha adalah universitas kehidupan bagi partai politik. “Di sini kader PAN belajar. Belajar ikhlas, belajar adil, belajar mendahulukan yang lemah. Kalau ada kader yang masuk PAN cuma untuk cari panggung, dia salah masuk pintu. PAN ini rumah pengabdian, bukan rumah singgah,” tegasnya.
Soal pembagian, Syah Afandin tak memberi ruang kompromi. “Daging ini hak warga. Hak tetangga kita di Sei Sikambing D, hak dhuafa, hak kader kita yang memang berhak. Sudah kita kasih kupon. Tidak boleh ada satu pun yang melenceng. Ini amanah. Amanah kalau dikhianati, berat urusannya di akhirat,” katanya dengan nada serius.
Ia menyebut qurban ini sebagai laporan tahunan PAN Sumut kepada rakyat. “Partai itu bukan diukur dari megahnya kantor, tapi dari seberapa sering pintunya terbuka untuk warga. 10 lembu ini laporan kami tahun ini. Isinya jelas: PAN Sumut masih bekerja, masih peduli, masih ada untuk rakyat,” pungkas Syah Afandin.
Didampingi Sekretaris, Bendahara, dan seluruh pengurus, proses qurban berjalan lancar hingga menjelang Ashar. Ratusan bungkus daging tersalur tepat, tanpa gaduh tanpa keluh. Warga yang menerima hanya bisa mengangguk: “Ternyata partai bisa juga begini. Nyata, bukan janji.”
*Pesan moral*: Kepercayaan rakyat tidak dibangun dengan kata-kata, tapi dengan bukti. PAN Sumut memilih membuktikan lewat 10 ekor lembu dan peluh kadernya. Karena bagi Syah Afandin, politik yang hebat adalah politik yang mengenyangkan, bukan yang mengenyahkan.

