Medan — Jurnalisku.com
Rabu malam, 1 Juli 2026 — Di tengah riuh Rakernas XVIII Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia, Wali Kota Bogor Dedie A. Rachim, M.A, melempar diagnosis yang telak. Hampir semua kota di Indonesia sedang sakit dengan penyakit yang sama. Namanya Urbanisasi dan Sampah.
“Semua kota menghadapi tantangan yang hampir sama. Mulai dari urbanisasi, persoalan layanan kesehatan, pengelolaan sampah, hingga penataan permukiman,” tegas Dedie saat mengikuti Rakernas APEKSI 2026 di Medan.
Bagi Dedie, ini bukan kebetulan. Ini pola. Desa ke kota. Lahan berkurang. Penduduk menumpuk. Sampah menggunung. Layanan kesehatan kewalahan. Rumah tidak layak huni bertambah. Jika setiap kota berjuang sendiri-sendiri, maka semua akan kalah.
Karena itu ia menempatkan APEKSI sebagai ruang paling krusial. “Karena itu, forum APEKSI menjadi ruang yang sangat penting untuk saling bertukar pengalaman dan mencari solusi bersama,” ujarnya. APEKSI tidak boleh jadi panggung curhat. Ia harus jadi ruang operasi. Bedah masalah, tukar resep, lalu pulang bawa obatnya.
Dedie merinci isu-isu strategis yang mengganjal seluruh wali kota. Peningkatan urbanisasi yang tak terbendung. Pembiayaan layanan kesehatan yang makin berat. Pengelolaan sampah yang sudah di ambang batas. Sampai penanganan kawasan permukiman dan RTLH yang terus melebar.
“APEKSI tidak hanya menjadi forum untuk menyampaikan berbagai persoalan yang dihadapi pemerintah kota, tetapi juga menjadi sarana memperkuat kolaborasi antardaerah serta membangun sinergi dengan berbagai pemangku kepentingan,” jelas Wali Kota Bogor ini.
Ia menekankan satu kata kunci. Kolaborasi lintas daerah. “Tantangan perkotaan yang semakin kompleks membutuhkan kerja sama lintas daerah agar solusi yang dihasilkan lebih efektif dan berkelanjutan,” katanya. Contoh sederhana. Bogor bisa belajar penanganan RTLH dari Makassar. Medan bisa adopsi sistem bank sampah dari Bandung. Surabaya bisa sharing pembiayaan Puskesmas dari Bogor. Kalau ditukar, semua kota naik kelas.
Dedie menutup dengan standar yang tinggi. “Yang terpenting bukan hanya menyampaikan persoalan, tetapi bagaimana seluruh anggota APEKSI bersama-sama mencari solusi melalui diskusi, berbagi praktik terbaik, dan memperkuat kerja sama dengan berbagai stakeholder terkait,” tegasnya.
Ia berharap Rakernas XVIII ini melahirkan rekomendasi yang bisa langsung dieksekusi. “Hasil pembahasan Rakernas XVIII APEKSI 2026 dapat menghasilkan rekomendasi konkret yang mampu memperkuat kapasitas pemerintah kota dalam meningkatkan pelayanan publik serta menjawab berbagai tantangan pembangunan perkotaan di masa mendatang,” harapnya.
“Kolaborasi dan pertukaran pengalaman antarkota menjadi kunci untuk menghadirkan kebijakan yang lebih efektif dalam mewujudkan kota yang nyaman, sehat, dan berkelanjutan bagi masyarakat,” pungkas Dedie.
